Waspada Potensi Long Covid-19
Berita Terkini
11 Agustus 2021 |
KPU Kab. Malang
Kepanjen (11/8/2021) Tidak sedikit dari para mantan penderita Covid-19 yang sudah dinyatakan negatif, masih merasakan gejala-gejala sisa yang kerap menganggu. Ternyata, hal tersebut bukan tanpa dasar. Beberapa pakar kesehatan pun sudah menyerukan mengenai hasil penelitian mengenai potensi long Covid19.
Menurut salah satu pakar dari Tim COVID-19 RSUP Dr Sardjito, dr Sumardi, virus corona masih hidup di dalam tubuh pasien tersebut selama 3-6 bulan meski hasil swab PCR mereka telah negatif. "(Pasien) yang sudah pulang dinyatakan COVID-nya negatif, artinya negatif di usap tenggorokan (swab antigen/PCR). Tapi sebetulnya virusnya masih ada di paru-paru atau organ lain yang bisa berjalan 3-6 bulan," ujar Sumardi dalam diskusi virtual yang ditayangkan di Youtube RSUP Dr Sardjito pada Jumat (6/8).
Dia menyebut, jika tak segera ditangani, gejala yang sebelumnya timbul tak kunjung hilang. Seperti demam berkepanjangan, sesak napas, jantung berdebar-debar, kemampuan berjalan 6 menit menurun, demensia atau pikun, hingga melemahnya anggota gerak. â€�"Makanya (ada kasus) sebulan setelah pulang (dari rumah sakit) terjadi perburukan sampai meninggal, karena virusnya itu masih berjalan di dalam organ-organâ€, lanjut dr. Sumardi.
Bagi mantan penderita yang merasakan adanya long covid dalam tubuhnya, disarankan untuk melakukan rehabilitasi medik. Rehabilitasi medik ini disesuaikan dengan gejala masing-masing pasien, mengingat virus COVID-19 bisa menyerang semua organ tubuh manusia dan gejalanya banyak yang mirip dengan penyakit lain. "Kita tahu, fisik terutama, entah kelumpuhan, anggota gerak jadi sakit berkepanjangan, nyeri sendi, nyeri otot, itu rehabilitasi fisik, latihan, itu diperlukan. Makanya ada panduan internasional bahwa setelah selesai COVID perlu rehabilitasi," lanjut dr.Sumardi.
Selain rehabilitasi fisik, ada 5 jenis rehabilitasi lain yang umumnya diperlukan pasien COVID-19 bergejala berat. Yakni rehabilitasi sistem pernapasan, rehabilitasi sistem jantung dan pembuluh darah, rehabilitasi sistem persarafan, rehabilitasi sistem anggota gerak, dan rehabilitasi kejiwaan atau psikoterapi."Pengobatan disesuaikan dengan kelainan organ yang terjadi," ujar Sumardi.
Sumardi menyebut, dampak kerusakan organ yang dialami pasien long COVID biasanya lebih lama. Bahkan dari sejumlah hasil autopsi, terdapat kerusakan sel pada organ pasien COVID-19.***ayu